Senin, 01 Agustus 2011

HIDUP INI...!!?

APA ARTI/MAKNA HIDUP MENURUT KAMU?

Hidup adalah tantangan - hadapilah
Hidup adalah keindangan – kagumilah
Hidup adalah tragedi – tangisilah
Hidup adalah tugas – tekunilah
Hidup adalah misteri – takjubilah
Hidup adalah impian – wujudkanlah
Hidup adalah perlombaan – menangkanlah
Hidup adalah janji – penuhilah
Hidup adalah teka-teki – jawablah
Hidup adalah perjalanan – tempuhlah
Hidup adalah anugerah – syukurilah
Hidup adalah kenyataan – telanlah
Hidup adalah kegembiraan – bagilah
Hidup adalah petualangan – lakonilah
Hidup adalah kesempatan – manfaatkanlah
Hidup adalah pemberian – hargailah
Hidup adalah cinta – terimalah dan berilah
Hidup adalah perjuangan – tuntaskanlah
Hidup adalah penderitaan – tanggunglah
Hidup adalah dambaan – raihlah
Hidup adalah . . .

Silahkan anda meneruskan daftar ini. Menurut anda apakah arti hidup? Di antara banyak-banyak pernyataan tadi, mana yang anda paling setujui? Sebaliknya, mana yang anda tolak? Mengapa?

Mungkin belum pernah terpikir oleh anda untuk merumuskan apa itu hidup. Memang, tidak banyak orang yang mempunyai kesempatan untuk berfalsafah tentang apa arti hidup. Yang penting kita menjalani hidup tiap hari. Kita sudah cukup sibuk dengan segala kegiatan hidup, sehingga tidak ada waktu untuk termenung tentang arti hidup.

Memang hidup ini penuh dengan kesibukan yang melelahkan. Karena itu kita beristirahat untuk memperoleh kesegaran. Lalu kesegaran itu kita manfaatkan untuk apa? Kesegaran itu kita gunakan untuk melanjutkan kesibukan yang tadi. Begitulah kita tenggelam dalam lingkaran yang tidak ada habisnya; sibuk – lelah – istirahat – segar – sibuk lagi – lelah lagi – istirahat lagi – segar lagi – sibuk lagi dan seterusnya. Kalau dipikir, bukankah itu pun dilakukan oleh seekor burung atau seekor kambing? Mereka pun menjalani lingkaran itu. Kalau begitu apa bedanya kita dari seekor burung atau kambing?

Apa anda berpikir seekor burung atau kambing dapat termenung dan berefleksi tentang arti hidupnya? Saya kira tidak. Karena itu, agaknya inilah yang paling membedakan kita dari burung atau kambing. Kita bisa merenungkan arti hidup kita.

Dalam bukunya dengan judul Selamat Panjang Umur - Dr.Andar Ismail menulis 33 renungan dalam buku ini mengajak kita merenungkan pelbagai aspek arti hidup. Katanya, “banyak pembaca bertanya mengapa buku saya selalu terdiri dari 33 bab. Ada yang bergurau dan berkata bahwa itu angka keramat”. Dalam salah satu resensinya, Weinata Sairin menulis ... “yang menjadi pertanyaan, mengapa ia selalu menggunakan angka 33 dalam karya-karyanya. Apakah angka itu membawa hoki baginya?”

Untuk menjawab keheranan itu, baiklah saya tegaskan bahwa angka 33 itu mengacu kepada umur Tuhan Yesus di bumi. Angka itu berkesan kepada saya: Yesus hidup hanya 33 tahun di bumi. Hidup-Nya begitu pendek.

Pernah saya memimpin retreat dengan pokok bahasan tentang diri Yesus. Untuk memvisualkan sosok diri Yesus, saya mengawali pertemuan itu dengan bertanya apa di antara hadirin ada pria yang berusia 33 tahun. Seorang pria yang masih muda berdiri dengan tegap. Seluruh hadirin tertegun memandang pria itu. Ia masih muda. Dalam usia semuda itulah Yesus mengajar di Galilea dan dihukum mati di Yerusalem. Jarang terpikir oleh kita bahwa Tuhan Yesus begitu muda.

Pada usia semuda itu, saya dirawat di rumah sakit selama hampir sebulan. Tubuh saya kian hari kian lemah. Demam saya turun naik. Selama berbaring itu saya banyak berpikir tentang arti hidup. Umur saya baru 33 tahun. Saya baru mulai berkembang dalam pekerjaan. Kedua anak kami baru berusia dua dan empat tahun. Masakan hidup saya berakhir dalam usia semuda itu?

Kita merasa sayang kalau ada orang meninggal dalam usia muda. Kita merasa seakan-akan hidup orang itu putus di tengah jalan. Kita memang cenderung mengukur hidup dari panjangnya umur.

Kalau kita ada di Yerusalem pada waktu Yesus dihukum mati, kita pun akan merasa sayang bahwa umur Yesus putus setengah jalan. Tetapi benarkah bahwa hidup Yesus putus setengah jalan? Kata-kata terakhir yang diucapkan Yesus di kayu salib menurut Yohanes adalah “Sudah selesai” (Yohanes 19:30). Dalam Alkitab Yunani tertulis “lesous eipen tetelestai”. Kata tetelestai (dari akar kata teleo) bisa mengandung banyak arti, yaitu sudah dilaksanakan (tugas), sudah dibayar (pajak), sudah dipatuhi (perintah), sudah dicapai (tujuan), sudah dituntaskan (perkara), sudah sampai pada akhir (perjalanan) atau sudah digenapi (janji).
Apa yang dilaksanakan, dicapai atau digenapi oleh Yesus selama 33 tahun itu? Apakah itu suatu tantangan atau keindahan atau tragedi atau yang lainnya seperti tercantum dalam daftar pada awal bab ini? Secara eksplisit, Yesus berkata, “... Anak Manusia ... datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang”. (Markus 10:45). Bagi Yesus, hidup-Nya adalah suatu pelayanan dan penebusan bagi banyak orang yang sesuai dengan maksud Allah terhadap umat manusia. Jadi, Yesus mengarahkan hidup-Nya bukan kepada diri-Nya sendiri, melainkan kepada Bapa-Nya di sorga dan kepada orang-orang sekitar-Nya. Itulah yang dituntaskan dan digenapi oleh Yesus. Hidup-Nya bermakna karena Ia melayani Bapa-Nya dan umat manusia.

Itulah kedalaman hidup seseorang, yaitu bila hidupnya bukan mengarah kepada diri sendiri semata-mata, melainkan kepada sesuatu di luar dirinya. Arti hidup bukan diukur dari panjangnya, melainkan dari isinya.

Disadur dari buku Selamat Panjang Umur, Andar Ismail (2009-08-21)